Artikel

Kersik Luai


Kersik Luai

​Judul : Kersik Luai
Penulis : LM Cendana
Editor : Nurti Lestari
Penerbit : Histeria
Cetakan : Pertama, 2017
Tebal : 507 Halaman
ISBN : 978-602-6380-98-2

“Sekiranya kami telah banyak berbuat dosa pada para ksatria Nusantara dengan membiarkan tikus-tikus berjas itu berkuasa di Tanah Air. Brapa lama ibu pertiwi menangisi negeri ini? Bukan sekadar tangis air mata, darah bisa jadi. Kami merindukan sosok Wibisana sebagai seorang pemimpin yang dapat membangunkan negeri ini dari mimpi buruk berkepanjangan. Di mana kiranya ia diantara kami?” – Hal 485

*
Blurb

Beberapa dekade selanjutnya, Tanah Air memasuki era dystopia yang telah dikuasai golongan oligarkis. Seorang manusia buatan, Btari, yang dinyatakan sebagai kloningan gagal hendak dibuang menuju pelosok negeri untuk dijadikan budak. Di tengah perjalanan, helikopter yang ditumpanginya ditembak jatuh di Laut Jawa. Di pesisir pantai, ia ditemukan seorang revolusioner. Nagara, yang mengajarkan banyak hal. Kemanusiaan, nasionalisme, dan cinta.

*

Presiden Andromeda benar-benar telah dipenuhi oleh ambisi menjadikan Tanah Air sebagai negara yang begitu maju dari segala bidang. Ia begitu bernafsu memiliki negara yang modern sehingga mengenyahkan banyak hal yang berhubungan dengan budaya dan tradisional Tanah Air.

Waluku di sebut-sebut sebagai pusat pemerintahan dengan kaum borjuis yang korup di dalamnya. Segala teknologi canggih mampu diciptakan di sini hingga manusia buatan pun bukan hal yang mustahil. Manusia kloning atau yang mereka sebut xenogeny merupakan proyek besar yang dilakukan oleh Presiden Andromeda. Salah satu xenogeny yang berhasil tercipta adalah Btari. Ia terlahir karena permintaan orangtua angkatnya yang mandul dan memilih alternatif manusia kloning untuk mendapatkan anak.

Menjadi seorang xenogeny tidaklah mudah. Ia harus menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan rutin setiap satu bulan sekali utnuk memastikan tidak ada cacat pada organ tubuhnya. Selama 18 tahun, ia berhasil melewati semuanya dengan baik. Namun, ternyata itu tidak berlangsung selamanya. Kerusakaan pada jantungnya terdeteksi saat ia menjalankan pemeriksaana rutin.
Dalam peraturan perundang-undangan, manusia kloning yang memiliki cacat produksi harus diasingkan menuju Vrischka untuk dijadikan budak. Karena menurut Presiden Andromeda mereka yang memiliki kelainan merupakan produk gagal dan tidak berguna. Termasuk Btari. Mau tak mau ia harus mematuhi perundang-undangan.

Proses pembuangan Btari menuju Vrischka ternyata tidak berjalan mulus. Helikopter yang ditumpanginya mengalami gencatan senjata dan akhirnya harus jatuh di Laut Jawa. Beruntung, nasib Btari selamat dan terdampar di pulau Pari. Tempat yang asing dan sangat berbeda dengan kehidupannya di Waluku.

Bersama Nagara, gadis xenogeny itu mulai mempelajari kehidupan masyarakat Pari dengan menyembunyikan identitasnya sebagai orang Borjuis. Penduduk dengan kesehariannya melestarikan budaya Nusantara bukan hal asing lagi di sini. Mulai dari pakaian batik yang selalu digunakan hingga kesenian tari dan bela diri yang selalu dipelajari.

Ternyata inilah hal yang ditakuti oleh Presiden Andromeda. Orang revolusioner yang mampu meracuni penduduk Waluku dengan budaya Nusantara yang sudah lama dienyahkan di sana. Tanah Air sudah tidak memiliki identitasnya lagi tidak seperti dahulu dengan kekayaan budaya. Hal inilah yang membuat orang revolusioner muak dengan pemerintahan saat ini dan bertekad akan menjungkirbalikkan kursi pemerintahan presiden Andromeda dan mengembalikan Tanah Air seperti sedia kala.

Bukan hanya di Pari saja orang revolusioner dan proletar berkumpul. Di Biduk dan Vrischka yang masih merupakan wilayah Tanah Air pun sudah sangat jengah dengan pemerintahan Andromeda yang begitu semena-mena.

Berbeda dengan masyarakat Pari yang ingin mengembalikan kebudayaan yang sudah menjadi ciri khas negara. Masyarakat Biduk yang masyarakatnya terkenal religius sangat ingin memunculkan kembali nilai ketuhanan pada diri setiap pribadi manusia. Seperti pada Pancasila sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa” sudah seharusnya manusia ingat kepada penciptanya dan berlaku sesuai norma keagamaan yang dianut.

Untuk Vrischka sendiri, mereka sangat ingin terbebas dari penindasan. Sebagai masyarakat yang sangat jauh dari kehidupan layaknya manusia. Mereka ingin menagih nilai keadilan. Bukan hanya kaum Borjuis saja yang bisa hidup damai, pendidikan layak, tempat tinggal layak. Justru mereka yang hidup di tanah yang kaya akan sumber daya alam seharusnya bisa hidup lebih layak bukan hanya sumber daya mereka yang diambil tapi tak ada timbal balik.

“Arti kebudayaan itu sendiri merupakan kebiasaan dari suatu masyarakat. Nah, aku berpikir, kemungkinan besar hal-hal seperti yang sering kutemui di Waluku adalah kebudayaan masyarakat sana. Korupsi sebagai contoh besarnya. Bagi mereka korupsi merupakan hal biasa. Suap-menyuap pun biasa. Hukum dapat dibeli menggunakan uang. Jadi pelaku tindak kejahatan seperti itu dapat bersembunyi di balik tumpukan uang. Hukum hanya berlaku untuk orang tak berduit.” – Hal 228

*

Cerita yang memiliki setting tahun 2075 ini bisa dibilang suatu cerminan negara Indonesia jika pemuda dan pemudinya tidak melestarikan kekayaan budaya yang kita miliki. Menjadi negara yang terlalu menjunjung tinggi modernitas tidaklah menjamin bahwa negara tersebut dapat bersaing dengan negara luar. Yang ada, negara tersebut menjadi kehilangan jati diri dan identitasnya jika perlahan menghapus jejak sejarah dan menghilangkan nilai-nilai budaya. Juga mengenai sentilan adanya koruptor dan berbagai permaslaahan di dalam novel ini sangat menunjukkan bagaimana realita negara Indonesia.

Aku sangat suka dengan diksi dan penuturan penulis di dalamnya. Membuat pembaca menjadi ikut masuk ke dalam cerita dan susah untuk berhenti. Terlebih dengan genre yang menurutku lumayan berat dan jarang sekali penulis Indinesia mengambil genre dystopia. Penulis sangat mampu menciptakan imajinasi di dalam pikiran pembacanya.
Riset yang begitu mendalam juga dilakukan penulis untuk menyajikan cerita yang bukan hanya menarik tapi bisa dibilang mendidik. Kersik Luai juga menyentuh tema yang mungkin sebagian orang mulai melupakannya. Yaitu nilai nasionalisme. Begitu detail diceritakan bagaimana Tanah Air ini bisa kehilangan identitas budayanya oleh keserakahan salah satu pihak. Membaca ini juga bisa menjadi alternatif untuk sebagian orang yang mungkin pusing dengan pelajaran sejarah atau kisah pewayangan yang biasanya membosankan. Karena seringkali di tengah-tengah narasi penulis menyelipkan sebuah kisah wayang atau penggalan sejarah yang memang mendukung cerita. Jadi jangan khawatir jika novel ini begitu berat dengan materi text book mengenai sejarah, justru disitulah letak menariknya novel ini dan sangat tidak bisa dipisahkan dari rangkaian alur.

Oh ya, sepertinya kalau sebuah novel tanpa bumbu-bumbu cinta rasanya hambar ya. Kersik Luai pun punya pasangan yang mampu membuatku iri. Mereka adalah Btari dan Nagara juga Anjani dan Niko yang mungkin part mereka muncul tidak terlalu banyak namun sangat memberi bumbu sedap pada cerita.
Terkadang saat membaca aku sedikit gemes dengan tingkah Btari yang begitu memperlihatkan rasa sukanya pada Nagara. Entah karena dia manusia kloning yang masih kebingungan dengan perasaan-perasaan yang kerap hadir atau memang Btari seperti itu. Tapi ini sangat berimbang dengan pembawaan Nagara yang begitu dewasa dan secara umur memang lebih tua dari Btari.

Jujur, aku sangat tergila-gila pada sosok Nagara yang begitu pas jika dijadikan salah satu kriteria calon suami. Bagaimana tidak, selain sifat mampu mengayomi, melindungi hingga memimpin yang memang seharusnya ada pada setiap pria. Ia juga memiliki karisma yang luar biasa dalam hal lisan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu hal yang baik dan menurutku bisa dibilang padat berisi. Inilah yang ku bilang sangat pas disandingkan dengan Btari yang masih berumur 18 tahun. Melihat Nagara jadi ingin meminta sesuatu pada Tuhan, tolong ciptakan yang seperti dia untukku. Hahaha

Oh ya, berikut aku lampirkan beberapa quote yang menurutku bagus dan bisa menapr-nampar hati.

“Seperti itulah cinta sejati. Semakin mencari yang lebih baik, maka kamu tidak akan pernah menemukannya. Jangan pernah menyia-nyiakan pula. Boleh jadi ia akan segera diambil orang lain.” – hal 129

“Kekuatan tidak digunakan untuk menyerang, melainkan melindungi diri.” – Hal 178

“Ketakutan telah melahirkan keberanian. Kelemahan melahirkan kekuatan. Dan penindasan melahirkan perlawanan.” – hal 315

“Cinta sejati tidak diukur dari seberapa kuat seseorang rela mati demi cintanya. Seseorang yang tidak akan pernah membiarkan cintanya mati, itulah yang kusebut cinta sejati.” – hal 368

“Mati berjuang atau hidup dipecundangi !” – Hal 399

“berabad-abad lamanya Tanah Air mengorbankan dirinya lepas dari penjajah asing. Kini, kami harus menyingsing lengan baju meneruskan perjuangan, melawan penjajah pribumi sendiri.” – hal 486

 

Sumber: https://catatankecildravia.wordpress.com/2017/05/31/review-novel-kersik-luai/