Artikel

Selalu Merasa Cemas dan Tidak Puas? Apakah Itu Wajar?


Selalu Merasa Cemas dan Tidak Puas? Apakah Itu Wajar?

Merasa cemas merupakan hal yang wajar dialami oleh semua orang. Akan tetapi, bagaimana jika rasa cemas itu terjadi secara berlebihan? Bukankah semua hal yang berlebihan itu tidak baik? Sekarang, mulailah untuk mengendalikan rasa cemas dengan baik, agar hidup terasa lebih tenang dan damai. Langkah-langkah berikut ini mungkin bisa membantu kalian untuk mengatasi rasa cemas yang berlebihan. Mari kita simak!

 

Menyelesaikan masalah kecemasan

Rasa cemas tidak akan membawa kita ke mana-mana. Maka, belajarlah untuk menggunakan teknik anti-kecemasan yang dicetuskan seorang insinyur brilian sekaligus pimpinan Carier Corporation New York, Willis H. Carrier. Caranya :

 

Langkah I :

Analisis situasi dengan tenang, jujur, tanpa rasa takut seraya memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi sebagai akibat kegagalan.

 

Langkah II :

Setelah memikirkan hal yang terburuk tentang hal yang mungkin terjadi. Maka, paksakan diri untuk menerima hal itu, jika perlu. Katakana pada diri sendiri, misalnya, kegagalan ini mungkin akan menyebabkan saya dipecat, tapi tenanglah, pasti akan ada pekerjaan lain yang lebih baik.

Langkah selanjutnya, bersikaplah tenang dan curahkan waktu serta tenaga untuk mencoba memperbaiki hal buruk yang telah kita terima secara mental.

Dalam buku The Importance of Life, Lin Yutang menulis, “Kedamaian pikiran yang sejati, timbul dari penerimaan terhadap hal yang terburuk. Secara psikologis ia berarti sebuah pelepasan energi”. Artinya, ketika kita telah menerima hal yang terburuk, kita tidak memiliki apa-apa lagi untuk dihilangkan. Dan itu secara otomatis berarti kita memiliki segalanya untuk diraih.

Sangat masuk akal! Namun sayangnya ada jutaan orang telah menghancurkan hidupnya dengan kekalutan dan kemarahan karena mereka menolak hal yang terburuk. Mereka menolak untuk memperbaiki dan menolak usaha apapun yang menyelamatkan diri mereka dari kehancuran.

 

Langkah III :

Saat pikiran telah jernih, perbaiki hal yang terburuk. Saat kita berpikir tentang solusi sebuah masalah, maka sebuah sudut pandang yang benar-benar baru hadir di hadapan kita.

 

Nah... Apabila sebuah kecemasan telah mampu untuk kita kendalikan, kemungkinan kita juga sudah dapat memulai untuk merintis sebuah pencapaian. Dan saat kita sudah mampu mencapai sesuatu yang kita inginkan, sebagai manusia terkadang kita sulit untuk merasa puas. Memang, dalam berusaha kita juga sangat tidak disarankan untuk cepat merasa puas. Lagi-lagi tentang hal yang berlebihan. Sebenarnya apa sih yang akan terjadi dalam diri kita bila kita menjadi orang yang selalu tidak puas? Bagaimana ciri-cirinya?

 

Laurie Ashner dan Mitch Meyerson dalam bukunya When is Enough, Enough? mengungkapkan beberapa ciri orang yang tidak puas antara lain :

  • Keberhasilan tidak memberi kita kegembiraan. Keberhasilan hanya akan membuat kita bertanya-tanya : Dapatkah saya melakukannya lagi?
  • Di satu pihak kita merasa berbakat dan istimewa, tetapi di pihak lain kita meragukannya. Kalau kupikir-pikir, saya ini apa ya?
  • Kita merasa usaha-usaha yang dilakukan tidak cukup diakui. Kita mengharapkan pujian, tetapi pujian itu membuat kita merasa tidak enak dan malah membuat was-was.
  • Kita sering kali menjadi orang nomor dua, misalnya asisten administrasi atau “konco wingking”. Kita merasa ketinggalan sementara orang-orang lain dengan keterampilan dan tidak berambisi bisa mencapai tujuan-tujuan mereka.
  • Kita merasa biasa-biasa saja atau tidak cukup berhasil yang membuat kita merasa gagal.
  • Setelah diajar untuk tidaktergantung pada orang lain, kita mempersalahkan diri secara berlebihan atas apa yang tidak beres dalam hubungan pribadi, di tempat kerja, dan dalam keluarga.
  • Kita terjerat dalam situasi-situasi yang menciptakan kebutuhan untuk membuktikan diri.
  • Kita secara tidak sadar membangkitkan kembali kekecewaan masa lalu, urusan yang tidak terselesaikan dengan orangtua dan teman-teman kembali berperan dalam hubunganhubungan kita di masa kini.
  • Seringkali kita menekan kecemasan dan depresi yang kita rasakan mengenai kehidupan. Kita sudah sangat terbiasa dengan hal itu, sehingga hal itu menjadi identik dengan diri sendiri.
  • Karena menggapai orang lain itu sulit, kita berusaha memperkuat diri sendiri dengan sistem pendukung yang bersifat tempelan dari luar (uang di bank, pekerjaan yang aman, kontak-kontak dengan masyarakat).
  • Kita menjadi kecanduan kerja dan kecanduan frustasi emosional.

 

Setelah membaca uraian di atas bagaimana menurut kalian guys? Apakah kalian termasuk orang-orang yang selalu merasa tidak puas? Jangan sampai  ya.. Mulai sekarang coba kita kendalikan rasa cemas dan ketidakpuasan yang berlebihan, jangan sampai itu semua merusak rasa damai dalam diri kita. Karena kedamaian itu, datang dari diri kita sendiri. Untuk lebih lanjut, kalian bisa baca di "Seharusnya Tidak Begitu" karya Asti Musman yang sudah bisa kalian PO sekarang juga.