Artikel

5 Tahapan Kehilangan


5 Tahapan Kehilangan

Kehilangan, mungkin merupakan hal yang paling sulit dan menyakitkan bagi banyak orang. Terutama, apabila kita kehilangan suatu hal yang sangatlah berarti dalam hidup kita. Dan tahukah kalian? Bahwa kehilangan itu sebenarnya memiliki beberapa tahapan. Kubler-Ross mengemukakan dalam bukunya On the Death and Dying, jika ada 5 tahapan yang terjadi kala seseorang mengalami sesuatu yang sulit, seperti kehilangan. Dalam buku tersebut, dijelaskan jika hal tersebut (5 tahapan tersebut) sangat normal terjadi pada orang yang sedang berjuang melawan apa yang membuatnya tidak nyaman, kekurangan, bahkan kehilangan yang disebabkan karena kematian seseorang. Jika dijelaskan, 5 tahapan berduka (5 stage of grief) adalah sebagai berikut ini:

 

  1. Denial atau Penyangkalan

“No! itu bukan dia!”

“Nggak, nggak, itu cuma mimpi!”

Pernah tidak mengatakan hal tersebut atau setidaknya tahu atau pernah mendengar orang mengatakan hal tersebut ketika sedang atau baru saja mengalami kehilangan? Bahkan kata-kata, “saya baik-baik saja” di saat kondisi dan juga hati sedang dalam kondisi yang tidak baik. Fase ini disebut dengan fase penyangkalan atau denial.

Kala seseorang mengalami sesuatu yang kurang nyaman, seperti kehilangan sesuatu, maka hal pertama yang biasanya terjadi adalah adanya penyangkalan. Perasaan ini sangat normal ketika kita sedang dalam masa berduka. Dan denial sebenarnya memiliki peranan yang sangat baik untuk tubuh dan diri sendiri. Tidak hanya secara fisik, namun juga secara mental dan pikiran. Karena bagaimanapun, cara ini adalah benteng untuk mengatasi stres, emosi yang berlebih, kecemasan, pikiran yang menyakitkan. Akan tetapi, jika fase denial berlangsung dalam waktu yang lama bahkan sangat lama, akan memberikan kerugian sendiri. Penyangkalan yang kuat akan membuat kita semakin susah untuk bangkit. Bahkan tidak jarang dapat menyebabkan gangguan kejiwaan dengan menciptakan ilusi tersendiri sesuai dengan yang ada di pikiran.

 

  1. Anger atau Kemarahan

Kemarahan akan sesuatu hal, seperti kehilangan, terutama untuk sesuatu yang mendadak, akan sangat memicu suatu kemarahan tersendiri. Rasa amarah yang muncul tersebut biasanya terjadi dalam waktu singkat, akan tetapi amarah yang dirasakan tersebut dapat muncul kembali saat melihat atau menemukan pemicunya. Fase marah atau anger di tahapan kedua ini menyadari jika seseorang tidak bisa selalu melakukan penyangkalan atas apa yang sedang terjadi.

 

  1. Bargaining atau Tawar-Menawar atau Pengandaian

Dalam proses kehilangan, ada pula fase di mana kita akan mengalami proses tawar menawar. Pada fase bargaining, seseorang akan secara terus-menerus memikirkan mengenai pengandaian yang dapat menyebabkan orang tersebut stres bahkan bisa saja mengalami panic disorder.

 

  1. Depression atau Depresi

Fase yang selanjutnya terjadi adalah depresi. Tidak bisa dimungkiri, jika kita merasa sedang berada di posisi terendah dalam hidup kita, misalnya kehilangan karena tidak ada seseorang yang mampu menjadi penopang kita, hal dalam diri kita akan terguncang. Dan rasa sedih yang dialami secara mendalam dan terus menerus atau dalam waktu tertentu ini dapat menyebabkan gangguan kejiwaan, seperti depresi.

 

  1. Acceptance atau Penerimaan

Setelah perang dalam dirinya usai, pada akhirnya jiwa akan mencoba untuk menerima. Penerimaan ini tidak datang dalam satu waktu. Ada proses yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang mengalaminya sendiri.  Kurun waktu dan cara penerimaan dari masing-masing orang pun berbeda. Ada yang berpikiran "Jika apa yang terjadi memang seharusnya terjadi" atau biasa saja seperti "Jika yang terjadi tersebut adalah yang terbaik walaupun kita harus merasa kehilangan, maka tak mengapa". Kemudian untuk masalah waktu, ada yang mudah menerima kenyataan dalam waktu singkat, dan ada pula orang yang berlarut-larut dalam keterpurukannya. Semua itu tergantung pada diri masing-masing.

 

 

Ya guys kita semua tahu, bahwa kehilangan itu benar-benar bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Akantetapi, sepahit dan sesakit apapun itu, kita harus tetap bangkit dan menemukan kebahagiaan kembali setelah melewati titik terendah dalam hidup. Kita boleh bersedih, tapi jangan sampai kesedihan itu menghentikan hidup kita. Karena hari esok akan lebih baik dari hari ini.

 

Untuk lebih lanjut, kalian bisa baca buku “Berdamai dengan Kehilangan” dari Nur Chasanah. Sudah bisa kalian pre-order sekarang juga.