Artikel

6 Kesalahan dalam Melakukan Penutupan Saat Public Speaking


6 Kesalahan dalam Melakukan Penutupan Saat Public Speaking

Disadari atau tidak, banyak orang telah melakukan kesalahan dalam melakukan penutupan. Kesalahan yang Anda lakukan saat melakukan penutupan akan sangat berpengaruh terhadap penilaian atau kesan yang akan diberikan oleh audiens. Sebenarnya, apa saja kesalahan yang kerap dilakukan seorang public speaking saat closing? Berikut penjelasannya.

 

Minta maaf kepada audiens bahwa apa yang telah disampaikan dari awal adalah hasil dari persiapan yang kurang matang.

Meminta maaf karena belum siap pada sesi akhir hanya akan membuat audiens merasa menyesal mendengarkan apa yang Anda katakan. Keadaan tersebut hanya akan mengingatkan mereka pada kekurangan yang Anda lakukan saat melakukan komunikasi. Oleh karena itu, jangan hancurkan kepercayaan audiens dengan perkataan maaf yang tidak tepat. Anda hanya perlu meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang telah disampaikan adalah hasil usaha maksimal.

 

Tergesa-gesa dalam menutup sesi bicara.

Banyak sekali pembicara yang melakukan closing secara buru-buru karena kehabisan waktu, mungkin karena mereka terlena dalam memberikan penjabaran. Artinya, manajemen waktu mereka gagal. Sehingga kesan yang akan diberikan oleh audiens pun akan bernilai negatif. Mereka akan menganggap pembicara tersebut tidak profesional dalam melakukan pembagian waktu. Padahal sesi penutupan dalam sebuah pembicaraan itu sangatlah penting untuk diperhatikan, jangan sampai kita menghilangkan sesi penutupan yang seharusnya dapat meninggalkan kesan baik bagi semua audiens.

 

Menutup dengan energi yang lemah.

Pahamilah bahwa audiens hanya menginginkan sesi bicara atau presentasi yang membuat mereka puas dan senang. Menutup sesi dengan energi yang lemah akan membuat mereka menjadi tidak semangat dalam mengakhiri sesi. Padahal, sebenarnya kita harus menunjukkan kepada audiens bahwa sesi pembicaraan tersebut akan selalu memberikan semangat sampai akhir penutupan.

 

Menjanjikan sesuatu tanpa mempertimbangkan keadaan.

Hindarilah menjanjikan sesuatu tanpa pertimbangan matang. Misalnya, seorang pembicara yang menjanjikan sesi tanya jawab, konsultasi, atau bahkan berjanji untuk memberikan hadiah di akhir pembicaraan. Akantetapi, karena manajemen waktu yang kurang baik janji-janji tersebut tidak dapat direalisasikan oleh sang pembicara. Keadaan ini akan membuat audiens berpikir negatif dan merasa bahwa pembicara tersebut hanya bisa obral janji tanpa bukti.

 

Mengambil waktu tambahan terlalu lama.

Biasanya masalah ini dialami oleh mereka yang membuat materi terlalu panjang, namun waktu yang diberikan sangat sedikit. Hal ini, sangat perlu untuk dihindari sejauh mungkin, karena justru akan membuat mereka tidak fokus dan merasa bosan. Apalagi, jika sesi Anda pada akhir waktu, audiens hanya akan memikirkan untuk pulang dan pulang. Akhirnya, kita sebagai pembicara akan kehilangan perhatian mereka.

Akantetapi, akan berbeda kasus jika audiens yang mendesak kita untuk melanjutkan pembicaraan. Keadaan tersebut justru bernilai positif, sebab audiens senang dan sangat terkesan dengan materi yang kita sampaikan. Jika hal tersebut terjadi, cukup pertimbangkan waktu saja, apakah kita sedang terburu-buru atau tidak. Jika tidak, maka kita bisa meneruskan sesi sampai berakhir.

 

Menghilangkan sesi penutupan.

Coba kita banyangkan apa yang akan dirasakan oleh audiens ketika mendengarkan sesi presentasi setelah poin utama disampaikan dan diakhiri begitu saja tanpa penutupan. Padahal, pada saat pembukaan sampai penyampaian pokok materi kita mampu membuat pembicaraan ini menjadi menarik. Sugguh disayangkan bukan? Kita akan kehilangan kesan akhir dari pembicaraan tersebut, sudah tentu hal ini juga akan menjadikan pembicaraan tidak menarik dan membuat audiens merasa penasaran.

 

Nah.. itulah hal-hal yang harus dihindari oleh seorang public speaking dalam melakukan closing dalam sebuah sesi pembicaraan. Buatlah audiens mengatakan, “Luar biasa, sangat menarik, dan saya senang mendengarkan. Jika ada kesempatan pasti saya, akan mengikuti sesinya lagi.” Cukup membahagiakan bukan jika hal itu terjadi?

Dan untuk mempelajari lebih lanjut, kalian bisa baca buku "Lancar Berbicara: Practical Public Speaking with EFT (Emotional Freedom Techniques) dari M. Heri Susilo. Selamat mencoba ya guys! Jadilah pembicara yang dapat membuat audiens sangat merindukan sesimu lagi. Semangat!!