Artikel

Apa yang Harus Kita Lakukan Jika Ternyata Bertindak Tak Semudah Berpikir?


Apa yang Harus Kita Lakukan Jika Ternyata Bertindak Tak Semudah Berpikir?

Berpikir dan bertindak merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Seperti halnya dengan kalimat “Apa yang Anda Pikirkan, Itu yang Anda Dapatkan”. Kalimat tersebut mengajarkan kita tentang seberapa pentingnya untuk memikirkan atau merancang terlebih dahulu apa yang akan kita lakukan. Akantetapi, dalam pelaksanaannya mungkin kita akan mendapati sebuah kendala. Salah satunya adalah, bagaimana jika dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan rencana? Nah, di sinilah kita menemukan tentang arti pentingnya berpikir dan bertindak besar. Lalu, bagaimana cara seseorang yang mampu berpikir dan bertindak besar menghadapi masalah tersebut? Berikut pembahasannya:

  1. Jangan Terburu Panik dan Beralih

Cobalah untuk berpikir jernih. Perlahan-lahan pelajari kasusnya, temukan penyebabnya, dan cari solusinya. Sebab, panik hanya akan memperkeruh suasana, baik suasana hati maupun suasana di luar yang memengaruhi keberhasilan dari tindakan Menurut beberapa artikel bebas, panik dalam bertindak dapat diatasi dengan beberapa cara, yaitu: melakukan grounding, berpikir logis, berimajinasi secara terarah, dan ambil langkah positif.

 

  1. Mendengarkan Pendapat Orang Sesuai Porsinya

Yang dimaksud mendengarkan pendapat sesuai dengan porsinya adalah menyikapi pendapat sesuai dengan siapa yang memberikan pendapat. Sebab, setiap orang mempunyai pengalaman dan referensinya masing-masing. Demikian juga dalam menghadapi kendala ketika menerapkan ide-ide besar, Anda perlu melihat pendapat orang dari kompetensinya sesuai dengan kepentingan Anda. Anda perlu memilah dan memilih pendapat-pendapat tersebut, pilihlah pendapat yang paling sesuai dan paling memberikan dampak terbaik dari masalah yang sedang Anda hadapi.

 

  1. Konsultasikan dengan Orang yang Lebih Berpengalaman

Ada kalanya kita menemui jalan buntu walaupun sudah berusaha menenangkan pikiran dan menyaring pendapat dari orang-orang. Nah, jika itu terjadi, maka konsultasikanlah kendala Anda dengan orang-orang yang sudah banyak berpengalaman sesuai dengan bidang kerja yang sedang Anda gagas. konsultasi kepada orang yang lebih berpengalaman dapat menghasilkan rekomendasi yang lebih detail, rasional, dan tepat sasaran.

 

  1. Hindari Menyalahkan Diri Sendiri

Ada banyak alasan mengapa seseorang suka menyalahkan diri sendiri ketika sedang mengalami kendala atau hambatan dalam hidupnya Dampak yang ditimbulkan pun beragam. Alasan paling kuat mengapa kita harus menghindari sikap menyalahkan diri sendiri, adalah karena perilaku ini berbanding lurus dengan tingkat depresi Umumnya, perilaku menyalahkan diri sendiri ini lebih sering disebabkan karena terlalu memforsir diri, dan merasa punya tanggung jawab penuh atas banyak hal. Ingat, memforsir diri sendiri termasuk ke dalam kebiasan yang tidak sehat. Itu bukan merupakan indikasi pekerja keras, melainkan indikasi workaholic Oleh karena itu jangan sampai menyalahkan diri sendiri ketika sedang mengalami hambatan berat. Ada baiknya kita mengikuti saran dari Febri (2019) untuk menghentikan kebiasaan diri menyalahkan diri sendiri. Pertama, mengenali apa yang sebenarnya sedang terjadi. Selain untuk memastikana apakah kendala benar-benar bersumber dari Anda, langkah ini sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah apa yang muncul, dan solusi apa yang bisa ditawarkan. Kedua, maafkan diri Anda apabila memang benar masalah yang muncul tersebut bersumber dari diri Anda, lalu mulailah untuk bersikap proaktif. Ketiga, buatlah rencana secara matang untuk mengatasi kendala tersebut. Ini termasuk plan B dan plan C jika apa yang Anda rencanakan ternyata tidak berhasil.

 

  1. Evaluasi Secara Objektif

Evaluasi secara objektif artinya melakukan penilaian secara cermat, tanpa adanya bias, dan menggunakan instrumen yang valid. Melakukan evaluasi secara objektif artinya kita melakukan analisis terhadap masalah dengan fokus pada apa yang penyebab (mengapa kendala muncul), apa dampaknya, dan bagaimana solusinya. Dalam melakukan evaluasi objektif, kita tidak diperkenankan untuk mencari siapa yang salah. Etikanya, kita hanya diperkenankan untuk mencari solusinya, kemudian siapa melakukan apa (pembagian tugas dalam tim) untuk menjalankan usulan solusi.

Guna mencapai hasil akhir tersebut, ada beberapa teknik evaluasi yang mungkin bisa dipilih, yakni: a) evaluasi berbasis masalah, b) evaluasi berbasis kompetensi SDM, dan c) evaluasi berbasis hasil akhir.

Evaluasi berbasis masalah artinya evaluasi yang dilaksanakan hanya terpaku pada masalah yang sedang dihadapi. Kelebihan dari penggunaan teknik evaluasi ini adalah lebih mudah dalam merumuska usulan solusi. Sedangkan kekurangannya adalah ketidaktahuan siapa yang paling layak menjalankan solusi yang diusulkan (apakah bisa dijalankan oleh orang-orang tertentu, dijalankan oleh semua tim, ataukan dijalankan dengan melibatkan orang lain dari luar tim).

Di samping evaluasi berbasis masalah, ada pula teknik evaluasi berbasis Sumber Daya Manusia (SDM). Teknik evaluasi ini lebih menekankan pada kompetensi apa yang dimiliki oleh SDM dalam tim. Sehingga solusi yang nanti dirumuskan tidak dasarkan pada masalah yang sedang dihadapi, melainkan didasarkan pada apa yang bisa dilakukan oleh tim.

Terakhir adalah evaluasi berbasis hasil akhir. Prosedur evaluasi ini didasarkan pada hasil akhir yang hendak dicapai, kendala yang muncul tidak perlu terlalu dihiraukan selama tidak begitu mengganggu tujuan utama.

 

Nah.. Kira-kira cara itulah yang bisa kita lakukan bila dalam pelaksanaan gagasan kerja kita tidak sesuai dengan rencana. Tetap terus berpikir & bertindak besar ya guys. Jangan menyerah dan salam sukses!

 

Dan untuk selengkapnya kalian bisa baca di “Seni Berpikir & Bertindak Besar” karya Miftakhuddin.