Artikel

How Can We Become So Overthinking ?


How Can We Become So Overthinking ?

 

Overthinking bisa jadi hal yang sangat melelahkan. Ibarat mendorong meja yang terhalang dinding. Sia-sia dan tidak ada gunanya. Sama halnya ketika Anda memikirkan hal-hal secara berlebihan, banyak pertimbangan dan penuh dengan kecemasan. Apa yang Anda hadapi segalanya jadi terlihat seperti raksasa penghadang laju meja yang Anda dorong tadi. Bayangkan laju meja itu sebagai kehidupan Anda. Apa yang akan terjadi? Sebagai manusia kita mungkin tidak bisa bergerak maju dan melakukan perubahan. Sebenarnya overthinking pun ada penyebabnya, berikut di antaranya:

 

Trauma Masa Lalu

Ada banyak kemungkinan peristiwa buruk yang bisa menjadi pemicu overthinking. Salah satunya ada pengalaman dari Ratna Widia (penulis buku You Are Overthinking) saat masih mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Saat hendak menjalani ujian skripsi, ia berulang kali meneliti naskah karya ilmiah yang dibuat, padahal naskah tersebut sebenarnya sudah dikerjakan dalam waktu yang cukup lama dengan dikawal pembimbing yang sangat mumpuni. Pada saat seperti itulah kita dipermainkan oleh black shadow. Kita sedang dipaksa untuk berpikir berlebihan. Jika kita belajar dari kasus tersebut, maka bisa dikatakan bahwa waktu kita terbuang hanya untuk berkutat pada kepantasan redaksional saja, padahal seharusnya bisa digunakan untuk fokus membuat materi presentasi. Kondisi tersebut bisa terjadi secara otomatis. Ada kekuatan lain yang mendorong kita untuk berpikir berlebihan. Dan pada akhirnya, di waktu yang akan datang kita akan selalu merasa was-was dan cemas. Sehingga dari situ, kita terbiasa untuk mengulang-ulang kembali pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan, dan itu dikarenakan rasa khawatir kita yang terlalu berlebihan.

 

Manipulasi Automatic Thought

Setiap individu memiliki pikiran otomatis (automatic thought). Pikiran bawah sadar yang tiba-tiba muncul dengan sendirinya dan dapat memengaruhi perasaan dan tingkah laku seseorang (Vandenbos: 2008). Sifat automatic thought ini memiliki dua sisi, yaitu bisa mengarah pada pikiran positif (positive thoughts) yang menuntut orang untuk bersikap realistis, obyektif, produktif, dan solutif atau justru mengarah pada pikiran negatif yang tentunya menyuruh individu untuk bersikap sebaliknya, seperti tidak realistis, kesalahan berpikir, pikiran mengalahkan diri dan kesalahan asumsi.

Begini salah satu gambaran tentang automatic thought, ketika kita sedang berada di suatu tempat bersama dua orang teman kita, dan dua teman kita tersebut saling berbisik sambil memandang kita. Maka, automatic thought berperan dalam menduga kejadian tersebut. Automatic thought yang positif akan berkata “Mereka pasti sedang ngomongin aku yang tadi jadi juara satu dan diumumkan saat upacara bendera,” tetapi automatic thought yang negatif berontak dan bertanyatanya “Mengapa dia melihatku? Mengapa mereka bisik-bisik? Apakah ada yang salah denganku?”. Nah.. seperti itulah automatic thought bekerja.

 

Lingkungan

Sebuah gambaran yang sederhana terkait betapa besarnya lingkungan dapat memengaruhi karakter & kepribadian seseorang, diungkapkan oleh Dhoroty Law yang mendeskripsikan pentingnya peran keluarga dan lingkungan untuk memberikan kasih sayang yang akan berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak.

Apabila sebentuk kasih sayang disodorkan oleh lingkungan sosial, maka anak akan percaya bahwa kehadirannya sangat diinginkan oleh lingkungan yang nantinya akan menjadi dasar baginya untuk percaya pada diri sendiri. Akan tetapi jika hal sebaliknya yang diperoleh, maka anak hanya akan memiliki kepercayaan diri yang penuh keragu-raguan. Overthinking adalah sebuah sifat yang mengaburkan konsep percaya diri dan mengubahnya menjadi sesuatu yang abstrak.

 

Immature

Tolok ukur kedewasaan seseorang tidak selalu ditentukan oleh usia, walaupun pada umumnya kedewasaan datang bersamaan dengan usia yang matang. Dewasa lebih cenderung mengarah pada suatu kemampuan pengendalian diri. Jika dibandingkan dengan seseorang yang memiliki sikap overthinking, maka kata dewasa masih sangat jauh darinya.

 

Oke guys, setelah membaca uraian di atas, setidaknya kita sudah tahu faktor apa saja yang mungkin akhirnya menjadikan kita sebagai orang yang overthinking. Selanjutnya berikut ini adalah salah satu cara yang bisa kalian lakukan untuk mengetahui keadaan yang terjadi dalam diri kita sendiri.

 

Spoken Gift–Apakah Aku Overthinking?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin bisa membantu kalian untuk berlatih mengklasifikasi suatu keadaan dan memahami diri sendiri. Coba beri checklist ya, untuk pernyataan yang sesuai dengan apa yang kalian rasakan. Selamat mencoba!

  • Saya merasa seperti memikul berton-ton karung berisi bayangan hitam membuat berat kepala saya.
  • Saya lebih memilih tidur sehingga saya tidak perlu memikirkan segala hal daripada saya harus bangun dengan berbagai kepelikan masalah yang mengetuk kepala saya berkali-kali.
  • Setiap bangun tidur saya merasa seperti habis dikejar-kejar sesuatu dan merasa sangat haus.
  • Saya selalu lama memilih menu makanan.
  • Saya terbiasa membaca sesuatu berulang-ulang kali.
  • Saya memiliki pengalaman yang tidak pernah ingin saya ingat kembali.
  • Saya merasa tidak percaya diri jika harus lewat di depan banyak orang.
  • Saya merasa seperti orang-orang itu membicarakan saya di belakang.
  • Saya ingin kembali memperbaiki kehidupan masakecil saya.
  • Saya merasa lingkungan sosial saya tidak menyukai saya.
  • Saya takut jika lingkungan sosial saya tidak bisamenerima saya.
  • Saya merasa malas jika harus selalu beradaptasi dengan lingkungan baru.
  • Saya tidak yakin dengan kehidupan di lingkungan baru saya.
  • Saya tidak suka merancang sesuatu.
  • Saya selalu terbayang kemungkinan-kemungkinan terburuk dari suatu kejadian

 

Healing

Jika mayoritas pernyataan di atas Anda bubuhi dengan checklist, maka silakan coba untuk healing sejenak. Silahkan recall memori Anda untuk menelusuri pengalaman traumatis atau kehidupan kecil Anda. Tuliskan apa yang menurut Anda sangat memengaruhi kepribadian Anda sekarang ini. Coret semua hal yang kamu benci, dan mulai tuliskan mimpi dan cita-citamu di lembar yang lain.

 

Nah.. itu dia sekilas langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk memahami diri kita. Setelah itu, perbaiki karakter dan cara berpikirmu mulai sekarang. Karena pada dasarnya, semua akan baik-baik saja.

Untuk lebih lanjut, kalian bisa baca buku “You Are Overthinking!” karya Ratna Widia. 

And stay positive thinking ya guys!