Artikel

Kata-Kata adalah Senjata


Kata-Kata adalah Senjata

“Pena lebih kuat dari pada pedang,” demikian dikatakan Edward Bulwer-Lytton pada tahun 1839 dan dia yakin tahu apa yang dia bicarakan. Kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan dan mengubah dunia. Dan meskipun kebanyakan orang percaya tindakan berbicara lebih keras, kata-kata tidak boleh dianggap enteng. Kata-kata dapat jatuh ke banyak telinga, mereka dapat dibaca oleh banyak mata, dan mereka dapat memicu tindakan yang dapat menambah nilai bagi dunia atau membakarnya.

 

Terkadang secara sadar atau tidak sadar kita mengucapkan kata-kata kasar dan keji yang bisa berdampak buruk pada orang yang diajak bicara. Hal ini haruslah dihindari, karena kata-kata tersebut merupakan senjata yang akan memberikan dampak yang negatif baik itu kepada orang lain maupun diri kita sendiri. Selalu berhati-hatilah dalam menjaga lisan dan perbuatan, seperti pepatah jawa yang mengatakan bahwa “Ajining dhiri dumunung ing lathi, ajining raga saka busana.”, pepatah tersebut mengungkapkan bahwa dipercaya atau tidaknya seseorang itu tergantung pada lisan, ucapan, dan perkataannya. Lain dengan nilai pribadi, nilai pribadi atau raga manusia sangat tergantung dari busana atau penampilannya. 

  

Ada sebuah eksperimen tentang kuatnya kata-kata. IKEA dalam rangka memperingati Anti Bullying Day setiap 4 Mei, meminta anak-anak sekolah untuk mempraktikkan perundungan terhadap tanaman. Eksperimen ini melibatkan dua tanaman hias Dracaena yang hampir identik, kita sebut saja dengan Dracaena A dan Dracaena B. Kedua tanaman tersebut dirawat dengan cara yang sama, akan tetapi yang membedakan dari perlakuan terhadap kedua tanaman tersebut terletak pada bagaimana anak-anak mengucapkan sesuatu kepada kedua tanaman tersebut. Para siswa diminta merekam suara mereka. Ada yang mengucapkan hal-hal baik untuk diputarkan kepada Dracaena A, sementara yang lain, mengucapkan kata-kata menyakitkan untuk diputarkan kepada Dracaena B, eksperimen tersebut dilakukan dalam 30 hari. Lalu apa yang terjadi? Tanaman yang disayang tetap sehat dan berkembang baik. Sementara tanaman yang dirundung tampak layu, kondisinya tidak sehat dan subur. Bisa jadi ini adalah sebuah kebetulan. Namun, hasil eksperimen perundungan ini mungkin membuat Anda memikirkan ulang implikasi dan kesadaran emosional sebuah tanaman. Eksperimen perundungan tanaman ini bisa jadi pengingat yang baik bagi kita bahwa kata-kata bisa menyakiti makhluk hidup lain, entah itu tanaman, hewan, atau manusia, sementara kasih sayang dapat mewujudkan kebaikan. Eksperimen yang dilakukan telah menunjukkan bahwa kata-kata yang baik dapat mengubah sepanjang hari seseorang. Karena kata-kata adalah senjata, sungguh menakjubkan bagaimana kata-kata dapat merobek-robek mental Anda. Pun sebaliknya kata-kata yang baik dapat membantu seseorang lebih dari yang Anda pikirkan. Jadi, pilih kata-kata Anda dengan bijak.

 

Mengingat ‘kekuatan yang kuat’ dari kata-kata yang kita ucapkan, kita harus mendisiplinkan diri untuk berbicara dengan cara yang menyampaikan rasa hormat, kelembutan, dan kerendahan hati. Salah satu tanda paling jelas dari kehidupan moral adalah ucapan benar. Menyempurnakan ucapan kita adalah salah satu batu kunci orang yang berkarisma. Sebelum berbicara, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan apa yang akan Anda katakan dan bagaimana Anda akan mengatakannya; sambil mempertimbangkan dampaknya pada pendengar. Berbaik hatilah kepada semua orang dan ucapkan kata-kata yang merupakan rambu inspirasi, antusiasme, dan dorongan bagi semua.

 

Kata-kata kita tidak hanya penting, tetapi juga nada yang kita gunakan berdampak besar. Selalu ungkapkan kebenaran, hindari berlebihan, konsistenlah dengan apa yang Anda katakan, jangan gunakan standar ganda dalam menangani orang, jangan gunakan kata-kata Anda untuk memanipulasi orang lain, dan yang terpenting jangan gunakan kata-kata untuk menghina atau meremehkan siapa pun.

 

Akan lebih baik jika kita selalu berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Jangan katakan hal pertama yang muncul di pikiran Anda. Akan tetapi, lakukan langkah-langkah berikut ini:

Saring kata atau frasa itu dan tanyakan pada diri Anda apakah ada cara yang lebih baik untuk mengatakannya.

Pertimbangkan untuk tidak berkomunikasi sama sekali. Terkadang ketika Anda tidak yakin kata-kata apa yang ingin Anda gunakan untuk menyampaikan maksud Anda, jangan katakan apa pun. Mundur. Ambil jarak. Anda tidak harus memiliki pendapat tentang setiap topik.

Ingatlah selalu di mana Anda berada. Sebelum Anda berbicara, sadarilah bahwa bahasa yang dapat diterima pada kalangan satu dengan lainnya itu tidaklah sama. Kita harus mengetahui, bahasa dan kata apa yang sesuai untuk kita ucapkan ketika berada dalam suatu kalangan.

Minta maaflah dengan cepat, singkat dan jujur apabila mengatakan sesuatu yang Anda tahu tidak seharusnya Anda katakan.

Hindari kata-kata yang membangkitkan perasaan negative. Pilihlah kata-kata yang hendak Anda ucapkan dengan cermat, sesuaikan dengan maksud dan sasaran dari kata-kata yang Anda ucapkan. Jangan sampai kata tersebut memberikan pandangan negatif atau bahkan menyakiti hati orang lain.

 

Sekali lagi, kata-kata adalah sebuah senjata. Maka dari itu, luangkanlah waktu untuk berpikir sebelum berbicara atau mengetik pemikiran dan perasaan itu, Anda dapat memutuskan untuk lebih spesifik tentang apa yang akan terjadi. Apakah komentar Anda akan “menyalakan api” atau “memadamkan api”? Akankah apa yang Anda katakan membantu atau melukai situasi yang sudah ada? Apakah ini baik dan bermanfaat atau buruk dan tidak berguna? Cobalah pikirkan secara baik-baik. Jadilah orang yang memiliki karisma, karena orang yang berkarisma dapat membuat orang lain percaya pada apa yang Anda lakukan untuk membantu orang-orang mencapai tujuan, serta menjadi inspirasi bagi banyak orang. Oke guys, untuk lebih lanjut kalian bisa baca di “Buku Sakti Menaklukkan dan Menguasai Orang Lain” karya Dewi Indra P.